Difteri

difteri

Difteri adalah infeksi bakteri yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, serta terkadang dapat memengaruhi kulit. Penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa.

Difteri termasuk salah satu penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi dan imunisasi terhadap difetri termasuk ke dalam program imunisasi wajib pemerintah indonesia. Imunisasi difetri yang dikombinasikan dengan pertusis (batuk rejan) dan tetanus ini disebut dengan imunisasi DTP. Sebelum usia 1 tahun, si kecil diwajibkan mendapat tiga kali imunisasi DTP. Cakupan si kecil yang mendapat imunisasi DTP sampai dengan tiga kali di indonesia, pada tahun 2016 sebesar 84%. Jumlah menurun jika dibandingkan dengan cakupan DTP yang pertama, yaitu 90%.

Penyebab Difteri

Diifteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Penyebab bakteri ini dapat terjadi dengan mudah, terutama bagi orang yang tidak mendapatkan vaksin difteri. Ada sejumlah cara penularan yang perlu diwaspadai, sebagai berikut  ini bunda:

  1. Terhirup percikan ludah penderita di udara saat penderita bersin atau batuk. Ini merupakan cara penularan difteri yang paling umum.
  2. Barang –barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, contohnya mainan atau handuk.
  3. Sentuhan langsung pada luka borok (ulkus) akibat difteri di kulit penderita. Penularan ini umumnya terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan yang padat penduduk yang kebersihannya tidak terjaga.

Bakteri difteri akan menghasilkan racun yang akan membunuh sel-sel sehat dalam tenggorokan, sehingga akhirnya menjadi sel mati. Sel – sel yang mati inilah yang akan membentuk membran (lapisan tipis) abu-abu pada tenggorokan. Disamping itu, racun yang dihasilkan juga berpotensi menyebar dalam aliran darah dan merusak jantung, ginjal,serta sistem saraf.

Gejala Difteri

Difteri umumnya memiliki masa inkubasi atau rentang waktu sejak bakteri masuk ke dalam tubuh sampai gejala muncul 2 sampai 5 hari. Gejala – gelaja dari penyakit difteri ini meliputi:

  1. Terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel.
  2. Demam dan menggigil
  3. Sakit tenggorokan dan suara serak
  4. Sulit bernapas atau napas yang cepat
  5. Pembengkakan kelenjar limfe pada leher
  6. Lemas dan lelah
  7. Pilek, awalnya cair tapi lama kelamaan menjadi kental dan terkadang bercampur darah

Difetri juga terkadang dapat menyeraang kulit dan menyebabkan luka seperti borok(ulkus). Ulkus tersebut akan sembuh dalam beberapa bulan, tetapi biasanya akan meninggalkan bekas pada kulit.

Segera periksakan diri kedokter jika bunda atau si kecil menunjukan gejala-gejala seperti di atas. Penyakit ini harus diobati secepatnya untuk mencegah komplikasi.

Pencegahan Difetri dengan Vaksinasi

Langkah pencegahan paling efektif untuk penyakit ini adalah dengan vaksin. Pencegahan difteri tergabung dalam vaksin DTP. Vaksin ini meliputi difteri, tetanus, dan pertusis, atau batuk rejan.

Vaksin DTP termasuk dalam imunisasi wajib bagi anak-anak di indonesia. Pemberian vaksin ini dilakukan 5 kali pada saat si kecil berusia 2 bulan, 3 bulan, 4bulan, satu setengah tahun dan lima tahun. Selanjutnya dapat diberikan booster dengan vaksin sejenis (Tdap atau TD) pada usia 10 tahun dan 18 tahun. Vaksin  Td dapat diulangi setiap 10 tahun untuk memberikan perlindungan yang optimal.

 

Apabila imunisasi DTP terlambat diberikan, imunisasi kejaran yang diberikan tidak akan mengulang dari awal. Bagi si kecil dibawah usia 7 tahun yang belum melakukan imunisasi DTP atau melakukan imunisasi yang tidak lengkap, masih dapat diberikan imunisasi kejaran dengan jadwal sesuai anjuran dokter anak. Namun bagi mereka yang sudah berusia 7 tahun dan belum lengkap melakukan vaksin DTP, terdapat vaksin sejenis yang bernama Tdap untuk diberikan.